1. Potensi flora hutan pantai
Kawasan pantai mempunyai sumberdaya yang berpotensi menghasilkan pendapatan secara terus menerus. Pada Gambar dapat dilihat kondisi pantai berpasir yang didominasi oleh hamparan pasir dan vegetasi yang lebat. Kawasan pantai juga berpotensi untuk dijadikan kawasan pariwisata karena keindahan alamnya.

Hutan Pantai
Hasil analisis vegetasi hutan pantai di Taman Nasional Gunung Leuser berlokasi di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tapaktuan tepatnya di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kluet Utara dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4, lengkap dengan hasil perhitungan Indeks Nilai Penting untuk masing-masing tingkatan vegetasi.
Tabel 1. Indeks Nilai Penting setiap species tingkat pohon
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
DR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Waru/Bak Siron
Bak Mane
Bak Me
Bak cueh
Cemara Pantai
Bak Ram
|
Hibiscus tiliaceus
Casuarina equisetifolia
|
35,7
1,5
3,0
31,3
25,3
3,0
|
31,6
3,5
7,0
31,6
17,5
7,0
|
43,4
0,5
3,7
30,2
21,1
1,0
|
110,7
5,5
13,7
93,0
64,0
11,0
|
|
Tabel 2. Indeks Nilai Penting tiap species tingkat tiang
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
DR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Waru/Bak Siron
Bak Ram
Bak Me
Bak cueh
Nyamplung
Cemara pantai
|
Hibiscus tiliaceus
Barringtonia asiatica
Casuarina equisetifolia
|
75,9
9,3
4,6
6,5
1,9
1,9
|
44,4
8,9
8,9
17,8
8,9
8,9
|
43,4
0,5
3,7
30,2
21,1
1,0
|
163,8
18,7
17,3
54,4
31,9
11,8
|
|
Tabel 3. Indeks Nilai Penting tiap species tingkat pancang
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Waru
Bak Tarok
Cemara Pantai
Bak Ram
Bak Me
Nyamplung
Spesies 1
Mangku
|
Hibiscus tiliaceus
Casuarina equisetifolia
Barringtonia asiatica
|
21,6
2,3
14,8
8,0
32,9
15,9
3,4
1,2
|
27,78
3,70
14,81
11,11
25,93
11,11
7,41
5,56
|
49,4
6,0
29,6
19,1
58,9
27,0
10,8
6,8
|
|
Tabel 4. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat semai
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
|
Bak Ram
Bak Cue’h
Nyamplung
Waru
Bak Me
Cemara Pantai
Spesies 1
|
Barringtonia asiatica
Hibiscus tiliaceus
Casuarina equisetifolia
|
10,7
0,8
9,9
17,4
30,6
25,6
5,0
|
15,4
5,1
15,4
20,5
30,8
10,3
5,1
|
26,1
6,0
25,3
37,9
61,3
35,9
10,1
|
|
Indeks Nilai Penting merupakan parameter yang dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi atau penguasaan spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Spesies-spesies yang dominan dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki indeks nilai penting yang tinggi, dengan demikian spesies yang paling dominan tentu saja memiliki indeks nilai penting yang besar.
Pada Tabel 1, untuk tingkat pohon diketahui bahwa vegetasi yang paling dominan di hutan pantai adalah spesies Waru (Hibiscus tiliaceus) dengan nama lokalnya yaitu Bak siron. Dimana spesies waru memiliki Indeks Nilai Penting (INP) yang paling besar dari seluruh spesies yang ada, yaitu sebesar 110,7 %. Spesies yang memiliki INP terendah yaitu spesies Bak mane sebesar 5,5 %. Pada Tabel 2, untuk tingkat tiang spesies yang mendominasi di hutan pantai adalah spesies Waru/Bak siron (Hibiscus tiliaceus) dengan INP sebesar 163,8 %, sedangkan spesies yang memiliki INP terkecil adalah spesies Cemara pantai (Casuarina equisetifolia) yaitu sebesar 11,8 %. Dari Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa tingkat pancang, didominasi oleh spesies Bak me dengan INP sebesar 58,9 %, dan INP terkecil adalah spesies Bak tarok dengan nilai 6,0 %. Pada Tabel 4, untuk tingkat semai spesies yang mendominasi adalah Bak me dengan INP sebesar 61,3 % dan INP yang terendah adalah spesies Bak cue’h yaitu sebesar 6,0 %.
Indeks keragaman merupakan ciri tingkat komunitas untuk menyatakan struktur komunitas tumbuhan. Keanekaragaman juga dapat digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan menjaga dirinya untuk tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponennya. Hasil perhitungan indeks Simpson dan indeks Shannon-Wienner di lokasi hutan pantai menunjukkan bahwa komunitas yang paling tinggi keanekaragamannya adalah pada tingkat pancang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,7895 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,7492 dan komunitas yang paling rendah keanekaragamannya adalah pada tingkat tiang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,4079 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,5871. Berdasarkan data di atas, maka pada komunitas tingkat pancang memiliki kemampuan untuk mempertahankan komponen-komponennya dari gangguan agar tetap stabil, sedangkan pada tingkat tiang, komunitasnya mudah mengalami parubahan bila terjadi gangguan.
Analisis vegetasi hutan pantai dilakukan dengan metode jalur, dimana analisis vegetasi yang dilakukan sebanyak 3 jalur yaitu dengan panjang keseluruhan jalur adalah 300 m. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa vegetasi hutan yang berada di hutan pantai tergolong rapat, hal ini berdasarkan perhitungan INP dan banyaknya spesies yang terdapat di hutan pantai.
2. Potensi flora hutan dataran rendah
Tajuk pohon yang rapat, ditambah lagi adanya tumbuhan yang memanjat, menggantung, dan menempel pada dahan-dahan pohon menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan hingga ke lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan semak untuk berkembang. Pada Gambar merupakan salah satu contoh kondisi hutan hujan tropis yang ada di Indonesia

Hutan Dataran Rendah
Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak jenis hutan, salah satunya adalah hutan dataran rendah yang berada di Bukit Lawang. Secara umum vegetasi hutan dataran rendah yang ada di Bukit Lawang sangat rapat, ini dapat dilihat langsung pada saat melaksanakan analisis vegetasi. Untuk lebih jelas mengetahui hasil analisis vegetasi di hutan dataran rendah yang dilaksanakan di Bidang Pengelolaan Wilayah V Bukit Lawang, yang berdekatan dengan lokasi ekowisata Bukit Lawang dapat di lihat pada Tabel 5, Tabel 6, Tabel 7 dan Tabel 8.
Tabel 5. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat pohon
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
DR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
|
Merawan mata kucing hitam
Merawan mata kucing merah
Meranti bunga
Meranti belang
Tapak itik
Jambu-jambu
Damar semantok
Arang-arang
Meranti buaya
Meranti batu
Durian batu
Darah-darah
Rambutan hutan
Damar minyak
Meranti tembaga
Damar hitam
Jelutung
Entut-entutan
|
Hopea dryobalainodies
Hopea ferruginea
Shorea teysmanniana
Shorea resinosa
Eugenia sp.
Shorea multiflora
Diospyros malam
Shorea lepidota
Shorea dasyphylla
Durio oxleyanus
Knema laurina
Arytera litoralis
Dipterocarpus lowii
Shorea leprosula
Shorea hopeifolia
Dyera costulata
|
6,2
4,8
14,4
1,4
1,4
1,4
9,6
1,4
13,4
16,7
2,4
2,4
4,8
2,4
7,2
4,8
3,8
1,4
|
4,4
2,2
11,1
2,2
2,2
2,2
13,3
2,2
8,9
13,3
2,2
2,2
6,7
2,2
8,9
8,9
4,4
2,2
|
2,1
1,7
8,5
1,7
0,4
0,3
28,5
0,4
24,4
12,5
0,6
0,6
2,3
6,4
2,7
3,2
3,0
0,7
|
12,7
8,7
34,0
5,4
4,0
3,9
51,4
4,0
46,7
42,6
5,2
5,2
13,7
11,0
18,7
16,9
11,3
4,4
|
|
Tabel 6. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat tiang
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
DR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
|
Geseng
Tapak itik
Mancang badak
Medang
Merawan mata kucing hitam
Damar semantok
Meranti buaya
Damar hitam
Damar minyak
Rupas
Darah-darah
Meranti tembaga
Tapak gajah
Kecing
Rambutan hutan
Meranti batu
Meranti bunga
Nyatoh
Pakam gunung
Redas
Manggis hutan
Meranti pipit
Garunggang
Meranti durian
Meranti pasir
|
Lithocarpus lucidus
Mangifera foetida
Alseodaphne andersonii
Hopea dryobalainodies
Shorea multiflora
Shorea lepidota
Shorea hopeifolia
Dipterocarpus lowii
Artocarpus dadah
Knema laurina
Shorea leprosula
Sterculia macrophylla
Castanopsis inermis
Arytera litoralis
Shorea dasyphylla
Shorea teysmanniana
Palaquium rostarium
Pometia pinnata
Shorea assamica
Cratoxylon ligustrinum
Palaquium sp.
Parashorea densiflora
|
6,0
2,4
3,6
7,1
3,6
4,8
6,0
7,1
2,4
1,2
1,2
3,6
1,2
2,4
10,7
3,6
7,1
4,8
2,4
2,4
1,2
6,0
4,8
1,2
3,6
|
5,7
1,9
3,8
9,4
5,7
3,8
5,7
5,7
1,9
1,9
1,9
3,8
1,9
3,8
9,4
3,8
7,5
3,8
3,8
1,9
1,9
5,7
1,9
1,9
1,9
|
5,8
1,9
3,6
6,6
2,9
4,8
4,6
5,7
2,6
0,8
1,0
2,9
1,0
2,1
9,0
2,5
6,1
9,5
1,9
2,1
0,8
7,9
8,2
1,0
4,8
|
17,4
6,1
10,9
23,2
12,1
13,3
16,2
18,5
6,9
3,9
4,1
10,2
4,1
8,2
29,2
9,9
20,8
18,0
8,0
6,3
3,9
19,5
14,9
4,1
10,2
|
|
Tabel 7. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat pancang
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
|
Meranti bunga
Darah-darah
Damar semantok
Meranti belang
Jering
Meranti buaya
Medang
Meranti batu
Meranti tembaga
Pasak bumi
Mancang badak
Damar hitam
Rambutan hutan
Redas
Garunggang
Sibolangit
Meranti pipit
Geseng
|
Shorea teysmanniana
Knema laurina
Shorea multiflora
Shorea resinosa
Pithecellobium sp.
Shorea lepidota
Alseodaphne andersonii
Shorea dasyphylla
Shorea leprosula
Eurycoma longifolia
Mangifera foetida
Shorea hopeifolia
Arytera litoralis
Cratoxylon ligustrinum
Dipterocarpus crinitus
Shorea assamica
Lithocarpus lucidus
|
13,0
7,4
5,6
3,7
3,7
7,4
3,7
3,7
1,9
1,9
5,6
7,4
18,5
5,6
1,9
3,7
1,9
3,7
|
12,8
7,7
7,7
5,1
5,1
5,1
5,1
2,6
2,6
2,6
5,1
7,7
12,8
5,1
2,6
5,1
2,6
2,6
|
25,8
15,1
13,2
8,8
8,8
12,5
8,8
6,3
4,4
4,4
10,7
15,1
31,3
10,7
4,4
8,8
4,4
6,3
|
|
Tabel 8. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat semai
|
No.
|
Nama Lokal
|
Nama Latin
|
KR (%)
|
FR (%)
|
INP (%)
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
|
Meranti batu
Geseng
Meranti bunga
Damar semantok
Rasamala
Meranti belang
Damar hitam
Garunggang
Meranti buaya
Meranti tembaga
Mancang badak
Rambutan hutan
Redas
Meranti pipit
|
Shorea dasyphylla
Lithocarpus lucidus
Shorea teysmanniana
Shorea multiflora
Altingia excelsa
Shorea resinosa
Shorea hopeifolia
Cratoxylon ligustrinum
Shorea lepidota
Shorea leprosula
Mangifera foetida
Arytera litoralis
Shorea assamica
|
6,3
9,5
4,8
9,5
1,6
3,2
3,2
1,6
3,2
3,2
7,9
27,0
17,5
1,6
|
10,0
13,3
3,3
10,0
3,3
6,7
6,7
3,3
3,3
3,3
10,0
16,7
6,7
3,3
|
16,3
22,9
8,1
19,5
4,9
9,8
9,8
4,9
6,5
6,5
17,9
43,7
24,1
4,9
|
|
Hasil analisis vegetasi di hutan dataran rendah untuk tingkat pohon spesies yang diperoleh sebanyak 18 spesies dan dari hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) dapat dijelaskan bahwa pada tingkat pohon spesies yang paling mendominasi adalah Damar semantok (Shorea multiflora) dengan nilai sebesar 51,4 % dan spesies yang paling rendah adalah Tapak itik dan Arang-arang (Diospyros malam) dengan nilai sebesar 4,0 %. Pada tingkat tiang spesies yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi adalah sebanyak 25 spesies, lebih banyak dari jumlah spesies tingkat pohon. Hasil Indeks Nilai Penting (INP) untuk tingkat tiang dapat dijelaskan bahwa spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) yaitu sebesar 29,2 %, sedangkan spesies yang terendah adalah Rupas (Artocarpus dadah) dan Manggis hutan dengan nilai sebesar 3,9 %. Pada tingkat pancang dan semai jumlah spesies vegetasi yang dijumpai pada analisis vegetasi adalah 18 spesies dan 14 spesies. Perhitungan indeks nilai penting tingkat pancang menggambarkan bahwa spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) dengan INP sebesar 31,3 % dan spesies yang terendah adalah Meranti tembaga (Shorea leprosula), Pasak bumi (Eurycoma longifolia), garunggang (Cratoxylon ligustrinum) dan Meranti pipit (Shorea assamica) yaitu sebesar 4,4 %. Sedangkan untuk tingkat semai spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) yaitu sebesar 43,7 % dan spesies terendah adalah Rasamala, Garunggang (Cratoxylon ligustrinum)dan Meranti pipit (Shorea assamica) yaitu sebesar 4,9 %. Berdasarkan perhitungan INP, maka diketahui jenis yang mendominasi dan dapat pula menjadi penentu keanekaragaman suatu komunitas tumbuhan. Spesies dominan adalah spesies yang memiliki tingkat penguasaan yang lebih tinggi pada suatu komunitas yang dapat dihitung dengan INP.
Berdasarkan perhitungan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Wienner komunitas tumbuhan yang paling tinggi keanekaragamannya adalah pada tingkat tiang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,9459 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 1,3234 dan komunitas yang paling rendah keanekaragamannya adalah pada tingkat semai, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,9181 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,8429. Hasil ini menunjukkan, bahwa pada tingkat tiang, memiliki komunitas dengan stabilitas dan kompleksitas yang tinggi karena interaksi spesies yang terjadi dalam komunitas tingkat pohon ini sangat tinggi. Berbeda dengan komunitas tingkat semai yang mudah mengalami gangguan karena kurangnya interaksi yang membuat komunitas ini tidak stabil.
Pada perhitungan indeks keanekaragaman di lokasi hutan pantai dan lokasi hutan dataran rendah, dapat dijelaskan bahwa komunitas hutan dataran rendah memiliki kompleksitas dan stabilitas yang tinggi dan susah mengalami gangguan dibandingkan dengan hutan pantai, karena nilai indeks keanekaragaman hutan dataran rendah lebih tinggi dibanding hutan pantai.
3. Potensi Fauna
Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak spesies keanekaragaman spesies fauna, sehingga pada kegiatan praktik kerja lapang ini inventarisasi satwa dilakukan pada 2 (dua) lokasi berbeda yaitu stasiun penelotoan Suaq Balimbing dan Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera – Bohorok. Pada Tabel 9 dan Tabel 10 disajikan spesies satwa yang ditemukan pada kegiatan inventarisasi satwa.
Tabel 9. Inventarisasi Satwa Liar di stasiun penelitian Suaq Balimbing
|
No.
|
Nama Lokal Satwa
|
Nama Latin
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
Monyet ekor panjang
Rangkong badak
Gagak
Kedih
Tupai
Babi hutan
Orangutan
Beruang
Harimau
Elang bondol
|
Macaca fascicularis
Buceros rhinoceros
Corvus enca
Presbytis thomasi
Callosciurus notatus
Sus barbatus
Pongo abelii
Helarctos malayanus
Panthera tigris sumatrae
Haliastur indus
|
Tabel 10. Inventarisasi Satwa Liar di pusat pengamatan Orangutan Sumatera – Bohorok
|
No.
|
Nama Lokal Satwa
|
Nama Latin
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
12
|
Orangutan
Raja udang
Babi hutan
Srigunting
Tupai merah
Gagak
Elang hitam
Beruk
Srigunting sumatera
Burung pelatuk
Luntur Kasumba
Beruang
Rangkong besar
Kuau raja
|
Pongo abelii
Halcylon chloris
Sus barbatus
Dircrurus macrocercus
Callosciurus notatus
Eudynamys scolopacea
Ictinaetus malayensis
Macaca pemestrina
Dicurus sumatranus
Celeus brachyurus
Harpactes kasumba
Helarctos malayanus
Buceros bicolor
Argulianus argus
|
Inventarisasi yang dilakukan di stasiun penelitian Suaq Balimbing lebih kepada satwa-satwa yang berada di hutan rawa. Suaq Balimbing terletak di BPTN I Tapaktuan. Lokasi inventarisasi ini merupakan salah satu pusat penelitian orang utan sumatera yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser. Diperkirakan dalam luasan areal pengamatan 50.000 m2 populasi satwa mencapai 48-82 individu.

Orang utan
Dari hasil satwa yang diperoleh melalui inventarisasi, dapat dijelaskan status dari masing-masing spesies berdasarkan apendix CITES. Untuk satwa yang masuk dalam apendix I yaitu Beruang (Helarctos malayanus), Harimau (Panthera tigris sumatrae) dan Orang utan (Pongo abelii) merupakan satwa yang termasuk dalam kategori terancam punah. Satwa yang masuk ke dalam appendix II adalah Monyet ekor panjang (Macaca facicularis), Kedih (Presbytes thomasi) merupakan satwa yang termasuk langka.
Spesies satwa yang merupakan flagship adalah Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Gagak (Eudynamys scolopacea), Elang bondol (Haliastur indus).
Kegiatan inventarisasi yang kedua dilakukan di pusat pengamatan Orang utan Sumatera-Bahorok yang merupakan daerah hutan dataran rendah. Pusat pengamatan Orang utan Sumatera ini terletak di BPTN III Stabat.
Terdapat 12 spesies satwa dari inventarisasi satwa di hutan dataran rendah. Status dari masing-masing spesies yang diperoleh dapat dikelompokkan berdasarkan apendix CITES. Untuk satwa yang masuk dalam apendix I yaitu Beruang (Helarctos malayanus), dan Orang utan (Pongo abelii) merupakan satwa yang termasuk dalam kategori terancam punah. Dan satwa yang masuk ke dalam appendix II adalah Monyet ekor panjang (Macaca facicularis), dan Beruk (Macaca pemestrina) merupakan satwa yang termasuk langka.
Tingginya populasi satwa liar dikarenakan hutan rawa dan hutan dataran rendah merupakan habitat yang sesuai bagi banyak satwa liar. Faktor pendukung tingginya populasi satwa liar baik di hutan rawa dan hutan dataran rendah adalah ketersediaan pakan yang melimpah. Pada Gambar dapat dilihat satwa yang diperoleh baik itu pada kegiatan inventarisasi yang dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung dapat berupa kotoran galian pada tanah, cakaran pada pohon dan jejak kaki pada tanah.
Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, Flora dan Fauna, Kehutanan dan Lingkungan, Taman Nasional
Komentar