Saud Daniel's Blog

Just another way to share

Fungi Tanah Gambut

Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan:

  1. Diketahui 8 spesies fungi dominan dari tanah gambut Desa Sei Siarti, Kabupaten Labuhan Batu yaitu: Aspergillus sp.1, Aspergillus sp.2,
    Fusarium sp., Penicillium chrysogenum, Penicillium digitatum,
    Penicillium
    sp., Curvularia sp., dan Mucor sp.
  2. Pada tanah gambut jenis saprik fungi yang ditemukan 4 spesies fungi yaitu: Aspergillus sp.1, Fusarium sp., Aspergillus sp.2 dan Penicillium chrysogenum, dengan total populasi sebesar 10370 cfu/ml.
  3. Pada tanah gambut jenis hemik fungi yang ditemukan 5 spesies fungi yaitu: Penicillium chrysogenum, Mucor sp., Penicillium digitatum, Curvularia sp., Penicillium sp., dengan total populasi sebesar 1970 cfu/ml.
  4. Pada tanah gambut jenis fibrik fungi yang ditemukan 2 spesies fungi yaitu: Aspergillus sp.1, dan Mucor sp., dengan total populasi sebesar 3700 cfu/ml.

Saran

Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan untuk aplikasi spora yaitu dengan mengaplikasikannya pada tanah secara langsung. Dengan penelitian lanjutan tersebut diharapkan bisa diperoleh informasi ilmiah yang sangat penting tentang kemungkinan pemanfaatan spora sebagai awal dekomposisi di lahan budidaya atau hutan.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, ,

Isolasi fungi dari tanah gambut

Cara isolasi fungi dari tanah

Berdasarkan Hadioetomo (1990), isolasi fungi dilakukan dengan metode pengenceran ekstrak tanah gambut. Tanah gambut jenis fibrik dimasukkan sebanyak 10 g ke dalam tabung Erlenmeyer yang berisi air steril sebanyak 100 ml dan diaduk hingga merata, kemudian diambil 1 ml sampel dari tabung Erlenmeyer dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi I (pertama) yang berisi 9 ml air steril dengan pengenceran 10-1. Kemudian dari tabung reaksi I diambil 1 ml dan dimasukkan ke tabung reaksi II (kedua) yang berisi 9 ml air steril. Dan dari tabung II diambil 1 ml lalu dimasukkan ke tabung reaksi III (ketiga) yang berisi air steril 9 ml. Setelah itu, dari tabung reaksi I, II, dan III dituang 0,1 ml ke dalam cawan Petri I, II, dan III yang telah berisi media PDA dengan menggunakan pipet tetes mikro kemudian disebarkan dengan spatula secara merata pada permukaan PDA sampai kering dan dibiarkan sampai miselium fungi tumbuh pada media biakan tersebut. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar di atas.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Pembuatan media PDA (Potato Dextrose Agar)

Isolasi fungi menggunakan medium PDA (Potato Dextrose Agar) yang dibuat sendiri. Sebanyak 200 g kentang yang telah dikupas dan dibersihkan kemudian diiris tipis-tipis. Kentang direbus selama 15-20 menit dengan air steril secukupnya, kemudian disaring dengan kain. Filtrat yang dihasilkan dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian ditambahkan 20 g dekstrosa dan ditambahkan 20 g agar kemudian dimasukkan air steril hingga volumenya menjadi satu liter. Kemudian dipanaskan dan diaduk hingga medium tampak bening. Lalu medium disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC dan tekanan 2 atm selama 15 menit.  Media yang telah disterilisasi selanjutnya dituang ke dalam cawan Petri.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , , , ,

Peran Mikroorganisme dalam Mendekomposisi Bahan Organik

Tingginya bahan organik pada tanah gambut merupakan karakteristik yang dimiliki oleh tanah gambut. Isroi (2008) meyatakan bahwa tanah sangat kaya akan mikroorganisme, seperti bakteri, actinomycetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroorganisme per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroorganisme tersebut. Tambahnya lagi, bahwa sebagian besar mikroorganisme tanah memiliki peranan yang menguntungkan, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, siklus hara tanaman, fiksasi nitrogen, pelarut posfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara.

Buckman & Brady (1982) menyatakan bahwa organisme tanah berperan penting dalam mempercepat penyediaan hara dan juga sebagai sumber bahan organik tanah. Mikroorganisme tanah sangat nyata perannya dalam hal dekomposisi bahan organik pada tanaman tingkat tinggi. Dalam proses dekomposisi sisa tumbuhan dihancurkan atau dirombak menjadi unsur yang dapat digunakan tanaman untuk tumbuh.

White (1947) mengatakan bahwa mikroorganisme akan menyerang atau merusak tumbuhan sampai hilangnya sebagian O2 dan berkembangnya toksin yang akan merusak kehidupan mikroorganisme. Jika proses tersebut berjalan terus, maka akan dihasilkan gambut yang berwarna hitam. Jika proses tersebut tidak berjalan terus maka akan dihasilkan gambut yang mempunyai struktur seperti tumbuhan dan biasanya berwarna coklat yang mengandung sisa-sisa kayu dan material tumbuhan lainnya.

Mikroorganisme perombak bahan organik ini terdiri atas fungi dan bakteri. Pada kondisi aerob, mikroorganisme perombak bahan organik terdiri atas fungi, sedangkan pada kondisi anaerob sebagian besar perombak bahan organik adalah bakteri (Noor 2004). Fungi berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik untuk semua jenis tanah. Fungi toleran pada kondisi tanah yang asam, yang membuatnya penting pada tanah-tanah hutan masam. Sisa-sisa pohon di hutan merupakan sumber bahan makanan yang berlimpah bagi fungi tertentu mempunyai peran dalam perombakan lignin (Foth 1991).

Nitrogen (N) harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain Rhizobium sp. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, unsur hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P, mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp, dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K (Isroi 2008).


Daftar pustaka

Buckman, H.O. dan Nyle, C.B. 1982. Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H.D. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah Edisi Ketujuh. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Isroi, 2008. Bioteknologi Mikroba untuk Pertanian Organik. Biogen Online.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.