Saud Daniel's Blog

Just another way to share

Peran Mikroorganisme dalam Mendekomposisi Bahan Organik

Tingginya bahan organik pada tanah gambut merupakan karakteristik yang dimiliki oleh tanah gambut. Isroi (2008) meyatakan bahwa tanah sangat kaya akan mikroorganisme, seperti bakteri, actinomycetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroorganisme per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroorganisme tersebut. Tambahnya lagi, bahwa sebagian besar mikroorganisme tanah memiliki peranan yang menguntungkan, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, siklus hara tanaman, fiksasi nitrogen, pelarut posfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara.

Buckman & Brady (1982) menyatakan bahwa organisme tanah berperan penting dalam mempercepat penyediaan hara dan juga sebagai sumber bahan organik tanah. Mikroorganisme tanah sangat nyata perannya dalam hal dekomposisi bahan organik pada tanaman tingkat tinggi. Dalam proses dekomposisi sisa tumbuhan dihancurkan atau dirombak menjadi unsur yang dapat digunakan tanaman untuk tumbuh.

White (1947) mengatakan bahwa mikroorganisme akan menyerang atau merusak tumbuhan sampai hilangnya sebagian O2 dan berkembangnya toksin yang akan merusak kehidupan mikroorganisme. Jika proses tersebut berjalan terus, maka akan dihasilkan gambut yang berwarna hitam. Jika proses tersebut tidak berjalan terus maka akan dihasilkan gambut yang mempunyai struktur seperti tumbuhan dan biasanya berwarna coklat yang mengandung sisa-sisa kayu dan material tumbuhan lainnya.

Mikroorganisme perombak bahan organik ini terdiri atas fungi dan bakteri. Pada kondisi aerob, mikroorganisme perombak bahan organik terdiri atas fungi, sedangkan pada kondisi anaerob sebagian besar perombak bahan organik adalah bakteri (Noor 2004). Fungi berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik untuk semua jenis tanah. Fungi toleran pada kondisi tanah yang asam, yang membuatnya penting pada tanah-tanah hutan masam. Sisa-sisa pohon di hutan merupakan sumber bahan makanan yang berlimpah bagi fungi tertentu mempunyai peran dalam perombakan lignin (Foth 1991).

Nitrogen (N) harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain Rhizobium sp. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, unsur hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P, mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp, dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K (Isroi 2008).


Daftar pustaka

Buckman, H.O. dan Nyle, C.B. 1982. Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H.D. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah Edisi Ketujuh. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Isroi, 2008. Bioteknologi Mikroba untuk Pertanian Organik. Biogen Online.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Potensi Flora dan Fauna Di TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

1. Potensi flora hutan pantai

Kawasan pantai mempunyai sumberdaya yang berpotensi menghasilkan pendapatan secara terus menerus. Pada Gambar dapat dilihat kondisi pantai berpasir yang didominasi oleh hamparan pasir dan vegetasi yang lebat. Kawasan pantai juga berpotensi untuk dijadikan kawasan pariwisata karena keindahan alamnya.

Pantai

Hutan Pantai

Hasil analisis vegetasi hutan pantai di Taman Nasional Gunung Leuser berlokasi di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tapaktuan tepatnya di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kluet Utara dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4, lengkap dengan hasil perhitungan Indeks Nilai Penting untuk masing-masing tingkatan vegetasi.

Tabel 1. Indeks Nilai Penting setiap species tingkat pohon

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

DR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

Waru/Bak Siron

Bak Mane

Bak Me

Bak cueh

Cemara Pantai

Bak Ram

Hibiscus tiliaceus

Casuarina equisetifolia

35,7

1,5

3,0

31,3

25,3

3,0

31,6

3,5

7,0

31,6

17,5

7,0

43,4

0,5

3,7

30,2

21,1

1,0

110,7

5,5

13,7

93,0

64,0

11,0

Tabel 2. Indeks Nilai Penting tiap species tingkat tiang

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

DR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

Waru/Bak Siron

Bak Ram

Bak Me

Bak cueh

Nyamplung

Cemara pantai

Hibiscus tiliaceus

Barringtonia asiatica

Casuarina equisetifolia

75,9

9,3

4,6

6,5

1,9

1,9

44,4

8,9

8,9

17,8

8,9

8,9

43,4

0,5

3,7

30,2

21,1

1,0

163,8

18,7

17,3

54,4

31,9

11,8

Tabel 3. Indeks Nilai Penting tiap species tingkat pancang

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

Waru

Bak Tarok

Cemara Pantai

Bak Ram

Bak Me

Nyamplung

Spesies 1

Mangku

Hibiscus tiliaceus

Casuarina equisetifolia

Barringtonia asiatica

21,6

2,3

14,8

8,0

32,9

15,9

3,4

1,2

27,78

3,70

14,81

11,11

25,93

11,11

7,41

5,56

49,4

6,0

29,6

19,1

58,9

27,0

10,8

6,8

Tabel 4. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat semai

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

Bak Ram

Bak Cue’h

Nyamplung

Waru

Bak Me

Cemara Pantai

Spesies 1

Barringtonia asiatica

Hibiscus tiliaceus

Casuarina equisetifolia

10,7

0,8

9,9

17,4

30,6

25,6

5,0

15,4

5,1

15,4

20,5

30,8

10,3

5,1

26,1

6,0

25,3

37,9

61,3

35,9

10,1

Indeks Nilai Penting merupakan parameter yang dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi atau penguasaan spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Spesies-spesies yang dominan dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki indeks nilai penting yang tinggi, dengan demikian spesies yang paling dominan tentu saja memiliki indeks nilai penting yang besar.

Pada Tabel 1, untuk tingkat pohon diketahui bahwa vegetasi yang paling dominan di hutan pantai adalah spesies Waru (Hibiscus tiliaceus) dengan nama lokalnya yaitu Bak siron. Dimana spesies waru memiliki Indeks Nilai Penting (INP) yang paling besar dari seluruh spesies yang ada, yaitu sebesar 110,7 %. Spesies yang memiliki INP terendah yaitu spesies Bak mane sebesar 5,5 %. Pada Tabel 2, untuk tingkat tiang spesies yang mendominasi di hutan pantai adalah spesies Waru/Bak siron (Hibiscus tiliaceus) dengan INP sebesar 163,8 %, sedangkan spesies yang memiliki INP terkecil adalah spesies Cemara pantai (Casuarina equisetifolia) yaitu sebesar 11,8 %. Dari Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa tingkat pancang, didominasi oleh spesies Bak me dengan INP sebesar 58,9 %, dan INP terkecil adalah spesies Bak tarok dengan nilai 6,0 %. Pada Tabel 4, untuk tingkat semai spesies yang mendominasi adalah Bak me dengan INP sebesar 61,3 % dan INP yang terendah adalah spesies Bak cue’h yaitu sebesar 6,0 %.

Indeks keragaman merupakan ciri tingkat komunitas untuk menyatakan struktur komunitas tumbuhan. Keanekaragaman juga dapat digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan menjaga dirinya untuk tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponennya. Hasil perhitungan indeks Simpson dan indeks Shannon-Wienner di lokasi hutan pantai menunjukkan bahwa komunitas yang paling tinggi keanekaragamannya adalah pada tingkat pancang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,7895 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,7492 dan komunitas yang paling rendah keanekaragamannya adalah pada tingkat tiang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,4079 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,5871. Berdasarkan data di atas, maka pada komunitas tingkat pancang memiliki kemampuan untuk mempertahankan komponen-komponennya dari gangguan agar tetap stabil, sedangkan pada tingkat tiang, komunitasnya mudah mengalami parubahan bila terjadi gangguan.

Analisis vegetasi hutan pantai dilakukan dengan metode jalur, dimana analisis vegetasi yang dilakukan sebanyak 3 jalur yaitu dengan panjang keseluruhan jalur adalah 300 m. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa vegetasi hutan yang berada di hutan pantai tergolong rapat, hal ini berdasarkan perhitungan INP dan banyaknya spesies yang terdapat di hutan pantai.

2. Potensi flora hutan dataran rendah

Tajuk pohon yang rapat, ditambah lagi adanya tumbuhan yang memanjat, menggantung, dan menempel pada dahan-dahan pohon menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan hingga ke lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan semak untuk berkembang. Pada Gambar merupakan salah satu contoh kondisi hutan hujan tropis yang ada di Indonesia

Hutan Dataran Rendah

Hutan Dataran Rendah

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak jenis hutan, salah satunya adalah hutan dataran rendah yang berada di Bukit Lawang. Secara umum vegetasi hutan dataran rendah yang ada di Bukit Lawang sangat rapat, ini dapat dilihat langsung pada saat melaksanakan analisis vegetasi. Untuk lebih jelas mengetahui hasil analisis vegetasi di hutan dataran rendah yang dilaksanakan di Bidang Pengelolaan Wilayah V Bukit Lawang, yang berdekatan dengan lokasi ekowisata Bukit Lawang dapat di lihat pada Tabel 5, Tabel 6, Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 5. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat pohon

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

DR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Merawan mata kucing hitam

Merawan mata kucing merah

Meranti bunga

Meranti belang

Tapak itik

Jambu-jambu

Damar semantok

Arang-arang

Meranti buaya

Meranti batu

Durian batu

Darah-darah

Rambutan hutan

Damar minyak

Meranti tembaga

Damar hitam

Jelutung

Entut-entutan

Hopea dryobalainodies

Hopea ferruginea

Shorea teysmanniana

Shorea resinosa

Eugenia sp.

Shorea multiflora

Diospyros malam

Shorea lepidota

Shorea dasyphylla

Durio oxleyanus

Knema laurina

Arytera litoralis

Dipterocarpus lowii

Shorea leprosula

Shorea hopeifolia

Dyera costulata

6,2

4,8

14,4

1,4

1,4

1,4

9,6

1,4

13,4

16,7

2,4

2,4

4,8

2,4

7,2

4,8

3,8

1,4

4,4

2,2

11,1

2,2

2,2

2,2

13,3

2,2

8,9

13,3

2,2

2,2

6,7

2,2

8,9

8,9

4,4

2,2

2,1

1,7

8,5

1,7

0,4

0,3

28,5

0,4

24,4

12,5

0,6

0,6

2,3

6,4

2,7

3,2

3,0

0,7

12,7

8,7

34,0

5,4

4,0

3,9

51,4

4,0

46,7

42,6

5,2

5,2

13,7

11,0

18,7

16,9

11,3

4,4

Tabel 6. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat tiang

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

DR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

Geseng

Tapak itik

Mancang badak

Medang

Merawan mata kucing hitam

Damar semantok

Meranti buaya

Damar hitam

Damar minyak

Rupas

Darah-darah

Meranti tembaga

Tapak gajah

Kecing

Rambutan hutan

Meranti batu

Meranti bunga

Nyatoh

Pakam gunung

Redas

Manggis hutan

Meranti pipit

Garunggang

Meranti durian

Meranti pasir

Lithocarpus lucidus

Mangifera foetida

Alseodaphne andersonii

Hopea dryobalainodies

Shorea multiflora

Shorea lepidota

Shorea hopeifolia

Dipterocarpus lowii

Artocarpus dadah

Knema laurina

Shorea leprosula

Sterculia macrophylla

Castanopsis inermis

Arytera litoralis

Shorea dasyphylla

Shorea teysmanniana

Palaquium rostarium

Pometia pinnata

Shorea assamica

Cratoxylon ligustrinum

Palaquium sp.

Parashorea densiflora

6,0

2,4

3,6

7,1

3,6

4,8

6,0

7,1

2,4

1,2

1,2

3,6

1,2

2,4

10,7

3,6

7,1

4,8

2,4

2,4

1,2

6,0

4,8

1,2

3,6

5,7

1,9

3,8

9,4

5,7

3,8

5,7

5,7

1,9

1,9

1,9

3,8

1,9

3,8

9,4

3,8

7,5

3,8

3,8

1,9

1,9

5,7

1,9

1,9

1,9

5,8

1,9

3,6

6,6

2,9

4,8

4,6

5,7

2,6

0,8

1,0

2,9

1,0

2,1

9,0

2,5

6,1

9,5

1,9

2,1

0,8

7,9

8,2

1,0

4,8

17,4

6,1

10,9

23,2

12,1

13,3

16,2

18,5

6,9

3,9

4,1

10,2

4,1

8,2

29,2

9,9

20,8

18,0

8,0

6,3

3,9

19,5

14,9

4,1

10,2


Tabel 7. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat pancang

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Meranti bunga

Darah-darah

Damar semantok

Meranti belang

Jering

Meranti buaya

Medang

Meranti batu

Meranti tembaga

Pasak bumi

Mancang badak

Damar hitam

Rambutan hutan

Redas

Garunggang

Sibolangit

Meranti pipit

Geseng

Shorea teysmanniana

Knema laurina

Shorea multiflora

Shorea resinosa

Pithecellobium sp.

Shorea lepidota

Alseodaphne andersonii

Shorea dasyphylla

Shorea leprosula

Eurycoma longifolia

Mangifera foetida

Shorea hopeifolia

Arytera litoralis

Cratoxylon ligustrinum

Dipterocarpus crinitus

Shorea assamica

Lithocarpus lucidus

13,0

7,4

5,6

3,7

3,7

7,4

3,7

3,7

1,9

1,9

5,6

7,4

18,5

5,6

1,9

3,7

1,9

3,7

12,8

7,7

7,7

5,1

5,1

5,1

5,1

2,6

2,6

2,6

5,1

7,7

12,8

5,1

2,6

5,1

2,6

2,6

25,8

15,1

13,2

8,8

8,8

12,5

8,8

6,3

4,4

4,4

10,7

15,1

31,3

10,7

4,4

8,8

4,4

6,3

Tabel 8. Indeks Nilai Penting tiap spesies tingkat semai

No.

Nama Lokal

Nama Latin

KR (%)

FR (%)

INP (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

Meranti batu

Geseng

Meranti bunga

Damar semantok

Rasamala

Meranti belang

Damar hitam

Garunggang

Meranti buaya

Meranti tembaga

Mancang badak

Rambutan hutan

Redas

Meranti pipit

Shorea dasyphylla

Lithocarpus lucidus

Shorea teysmanniana

Shorea multiflora

Altingia excelsa

Shorea resinosa

Shorea hopeifolia

Cratoxylon ligustrinum

Shorea lepidota

Shorea leprosula

Mangifera foetida

Arytera litoralis

Shorea assamica

6,3

9,5

4,8

9,5

1,6

3,2

3,2

1,6

3,2

3,2

7,9

27,0

17,5

1,6

10,0

13,3

3,3

10,0

3,3

6,7

6,7

3,3

3,3

3,3

10,0

16,7

6,7

3,3

16,3

22,9

8,1

19,5

4,9

9,8

9,8

4,9

6,5

6,5

17,9

43,7

24,1

4,9

Hasil analisis vegetasi di hutan dataran rendah untuk tingkat pohon spesies yang diperoleh sebanyak 18 spesies dan dari hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) dapat dijelaskan bahwa pada tingkat pohon spesies yang paling mendominasi adalah Damar semantok (Shorea multiflora) dengan nilai sebesar 51,4 % dan spesies yang paling rendah adalah Tapak itik dan Arang-arang (Diospyros malam) dengan nilai sebesar 4,0 %. Pada tingkat tiang spesies yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi adalah sebanyak 25 spesies, lebih banyak dari jumlah spesies tingkat pohon. Hasil Indeks Nilai Penting (INP) untuk tingkat tiang dapat dijelaskan bahwa spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) yaitu sebesar 29,2 %, sedangkan spesies yang terendah adalah Rupas (Artocarpus dadah) dan Manggis hutan dengan nilai sebesar 3,9 %. Pada tingkat pancang dan semai jumlah spesies vegetasi yang dijumpai pada analisis vegetasi adalah 18 spesies dan 14 spesies. Perhitungan indeks nilai penting tingkat pancang menggambarkan bahwa spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) dengan INP sebesar 31,3 % dan spesies yang terendah adalah Meranti tembaga (Shorea leprosula), Pasak bumi (Eurycoma longifolia), garunggang (Cratoxylon ligustrinum) dan Meranti pipit (Shorea assamica) yaitu sebesar 4,4 %. Sedangkan untuk tingkat semai spesies yang mendominasi adalah Rambutan hutan (Arytera litoralis) yaitu sebesar 43,7 % dan spesies terendah adalah Rasamala, Garunggang (Cratoxylon ligustrinum)dan Meranti pipit (Shorea assamica) yaitu sebesar 4,9 %. Berdasarkan perhitungan INP, maka diketahui jenis yang mendominasi dan dapat pula menjadi penentu keanekaragaman suatu komunitas tumbuhan. Spesies dominan adalah spesies yang memiliki tingkat penguasaan yang lebih tinggi pada suatu komunitas yang dapat dihitung dengan INP.

Berdasarkan perhitungan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Wienner komunitas tumbuhan yang paling tinggi keanekaragamannya adalah pada tingkat tiang, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,9459 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 1,3234 dan komunitas yang paling rendah keanekaragamannya adalah pada tingkat semai, dimana indeks keanekaragaman Simpson (H) = 0,9181 dan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) = 0,8429. Hasil ini menunjukkan, bahwa pada tingkat tiang, memiliki komunitas dengan stabilitas dan kompleksitas yang tinggi karena interaksi spesies yang terjadi dalam komunitas tingkat pohon ini sangat tinggi. Berbeda dengan komunitas tingkat semai yang mudah mengalami gangguan karena kurangnya interaksi yang membuat komunitas ini tidak stabil.

Pada perhitungan indeks keanekaragaman di lokasi hutan pantai dan lokasi hutan dataran rendah, dapat dijelaskan bahwa komunitas hutan dataran rendah memiliki kompleksitas dan stabilitas yang tinggi dan susah mengalami gangguan dibandingkan dengan hutan pantai, karena nilai indeks keanekaragaman hutan dataran rendah lebih tinggi dibanding hutan pantai.

3. Potensi Fauna

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak spesies keanekaragaman spesies fauna, sehingga pada kegiatan praktik kerja lapang ini inventarisasi satwa dilakukan pada 2 (dua) lokasi berbeda yaitu stasiun penelotoan Suaq Balimbing dan Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera – Bohorok. Pada Tabel 9 dan Tabel 10 disajikan spesies satwa yang ditemukan pada kegiatan inventarisasi satwa.

Tabel 9. Inventarisasi Satwa Liar di stasiun penelitian Suaq Balimbing

No.

Nama Lokal Satwa

Nama Latin

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Monyet ekor panjang

Rangkong badak

Gagak

Kedih

Tupai

Babi hutan

Orangutan

Beruang

Harimau

Elang bondol

Macaca fascicularis

Buceros rhinoceros

Corvus enca

Presbytis thomasi

Callosciurus notatus

Sus barbatus

Pongo abelii

Helarctos malayanus

Panthera tigris sumatrae

Haliastur indus

Tabel 10. Inventarisasi Satwa Liar di pusat pengamatan Orangutan Sumatera – Bohorok

No.

Nama Lokal Satwa

Nama Latin

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

12

Orangutan

Raja udang

Babi hutan

Srigunting

Tupai merah

Gagak

Elang hitam

Beruk

Srigunting sumatera

Burung pelatuk

Luntur Kasumba

Beruang

Rangkong besar

Kuau raja

Pongo abelii

Halcylon chloris

Sus barbatus

Dircrurus macrocercus

Callosciurus notatus

Eudynamys scolopacea

Ictinaetus malayensis

Macaca pemestrina

Dicurus sumatranus

Celeus brachyurus

Harpactes kasumba

Helarctos malayanus

Buceros bicolor

Argulianus argus

Inventarisasi yang dilakukan di stasiun penelitian Suaq Balimbing lebih kepada satwa-satwa yang berada di hutan rawa. Suaq Balimbing terletak di BPTN I Tapaktuan. Lokasi inventarisasi ini merupakan salah satu pusat penelitian orang utan sumatera yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser. Diperkirakan dalam luasan areal pengamatan 50.000 m2 populasi satwa mencapai 48-82 individu.

Orang utan

Orang utan

Dari hasil satwa yang diperoleh melalui inventarisasi, dapat dijelaskan status dari masing-masing spesies berdasarkan apendix CITES. Untuk satwa yang masuk dalam apendix I yaitu Beruang (Helarctos malayanus), Harimau (Panthera tigris sumatrae) dan Orang utan (Pongo abelii) merupakan satwa yang termasuk dalam kategori terancam punah. Satwa yang masuk ke dalam appendix II adalah Monyet ekor panjang (Macaca facicularis), Kedih (Presbytes thomasi) merupakan satwa yang termasuk langka.

Spesies satwa yang merupakan flagship adalah Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Gagak (Eudynamys scolopacea), Elang bondol (Haliastur indus).

Kegiatan inventarisasi yang kedua dilakukan di pusat pengamatan Orang utan Sumatera-Bahorok yang merupakan daerah hutan dataran rendah. Pusat pengamatan Orang utan Sumatera ini terletak di BPTN III Stabat.

Terdapat 12 spesies satwa dari inventarisasi satwa di hutan dataran rendah. Status dari masing-masing spesies yang diperoleh dapat dikelompokkan berdasarkan apendix CITES. Untuk satwa yang masuk dalam apendix I yaitu Beruang (Helarctos malayanus), dan Orang utan (Pongo abelii) merupakan satwa yang termasuk dalam kategori terancam punah. Dan satwa yang masuk ke dalam appendix II adalah Monyet ekor panjang (Macaca facicularis), dan Beruk (Macaca pemestrina) merupakan satwa yang termasuk langka.

Tingginya populasi satwa liar dikarenakan hutan rawa dan hutan dataran rendah merupakan habitat yang sesuai bagi banyak satwa liar. Faktor pendukung tingginya populasi satwa liar baik di hutan rawa dan hutan dataran rendah adalah ketersediaan pakan yang melimpah. Pada Gambar  dapat dilihat satwa yang diperoleh baik itu pada kegiatan inventarisasi yang dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung dapat berupa kotoran galian pada tanah, cakaran pada pohon dan jejak kaki pada tanah.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Iklim Telah Berubah, Pulau Terancam Tenggelam

Cuaca ekstrem, badai tropis yang semakin sering, dan pergeseran musim merupakan fenomena terjadinya perubahan iklim. Munculnya fenomena tersebut di Indonesia diakui merupakan indikasi bahwa perubahan iklim memang telah terjadi di Indonesia.

Dampak pemanasan global

Dampak pemanasan global

Indikasi lainnya adalah meningkatnya intensitas siklon tropis yang menyebabkan gelobang tinggi. “Siklon tropis di Samudra Hindia rata-rata setiap tahun terjadi 7-8 kali dalam rentang waktu lima bulan dari bulan November sampai Maret. Jarang sekali mengumpul seperti empat siklon Charlotte, Dominic, Ellie dan Freddy dalam masa kurang dari satu bulan.

Empat siklon tropis itu terjadi dalam jangka waktu 28 hari, antara 11 Januari hingga 7 Februari. Akibatnya, terjadi gelombang tinggi di perairan Indonesia.

Dampak perubahan iklim antara lain pulau tenggelam akibat naiknya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub, ancaman kekeringan dan cuaca ekstrem. Kejadian-kejadian itu secara langsung akan mengancam penghasilan dan kehidupan nelayan, masyarakat pesisir, dan petani karena berdampak terhadap menurunnya produktivitas pertanian.

Pesan Penting Perubahan Iklim

  1. Perubahan iklim adalah isu serius dan urgen.
  2. Peningkatan dua kali lipat gas rumah kaca (GRK) dibandingkan dengan era praindustri kemungkinan besar akan meningkatkan suhu rata-rata global 2 derajat hingga 5 derajat celcius. Level GRK ini diperkirakan tercapai tahun 2030-2060. Perbedaan suhu 5 derajat celcius serupa dengan perbedaan suhu pada zaman es dan sekarang.
  3. Beberapa dampak perubahan iklim akan memanaskan bumi karena memicu terlepasnya carbon dioksida. Akibatnya, peningkatan temperatur bisa lebih tinggi. Dari analisis diketahui feedback seperti ini dapat meningkatkan suhu bumi 1 derajat hingga 2 derajat celcius.
  4. Pemanasan mengakibatkan intensitas siklus air meningkat sehingga memperkuat pola kekurangan dan kelebihan air. Akibatnya, resiko banjir dan kekeringan semakin tinggi.
  5. Akibat pemanasan bumi, resiko meningkat untuk terjadinya perubahan system iklim secara mendadak dan dalam skala besar.

Sumber : KOMPAS 2009

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, ,

Konflik Harimau, Kenapa?

harimau1Permasalahan harimau dengan masyarakat seperti yang sering terjadi saat ini seperti di Jambi, Riau, Aceh, bukan tanpa sebab. Ada beberapa hal yang sangat dimungkinkan menjadi penyebab terjadinya konflik harimau dengan manusia secara umum, diantaranya;

1. Pertambahan penduduk.

Pertambahan penduduk yang semakin pesat dewasa ini sangat banyak membutuhkan lahan, baik itu untuk pemukiman maupun sebagai areal pertanian dan perladangan. Konversi lahan yang merubah hutan alam menjadi lahan pertanian dan pemukiman ini menyebabkan berkurangnya luasan hutan alami sehingga mempersempit habitat dan ruang gerak harimau.

2. Pengurangan luasan hutan alami.

Sumatera diperkirakan telah kehilangan 65 – 80% daerah tutupan hutan alami yang diakibatkan dari bentuk kegiatan IPHHK (ijin Pengelolaan Hasil Hutan Kayu), pengelolaan IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) baik secara legal maupun illegal, konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian, perladangan dan perkebunan sawit. Hal ini menimbulkan fragmentasi habitat, sehingga mendesak harimau untuk menempati lokasi-lokasi yang sebelumnya bukan habitat harimau, tidak hanya itu, kegiatan di atas juga menimbulkan dampak besar pada sejumlah hidupan liar lainnya (flora dan fauna liar) baik itu mangsa harimau maupun tidak.

3. Perburuan hewan mangsa harimau.

Manusia dan harimau bersaing dalam berburu mangsa, baik untuk makanan maupun olahraga. Perburuan hewan mangsa harimau yang berlebihan dapat memancing harimau yang lapar datang ke pemukiman penduduk.

4. Perburuan langsung terhadap harimau.

Ancaman serius bagi kehidupan harimau sumatera adalah pemanfaatan tulang dan bagian tubuh yang lain sebagai obat tradisional dan sebagai pajangan.

Percaya atau tidak, tindakan balas dendam dari sang harimau yang masih hidup kepada manusia sering kali terjadi karena praktek-praktek perburuan terhadap harimau ini.

Sumber : Jejak Leuser

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.