Saud Daniel's Blog

Just another way to share

Restorasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem

Kegiatan restorasi dan rehabilitasi merupakan kegiatan mengembalikan ekosistem yang telah rusak baik itu akibat perambahan liar, illegal logging ataupun karena bencana alam. Kegiatan dilakukan di daerah yang terjadi kerusakan hutan, yaitu di SPTN IV Besitang. Dari hasil pengamatan di lokasi rehabilitasi dan wawancara di lapangan dengan petugas taman nasional dan kepala kelompok tani, kegiatan rehabilitasi ekosistem dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam suatu kelompok yang peduli leuser. Tanaman yang akan ditanam sebelumnya dibibitkan sendiri oleh kelompok tani. Tanaman yang dibibitkan antara lain, durian, jengkol, sungkai, dan meranti. Pembibitan dilakukan di bawah tegakan kelapa sawit dan di areal lahan yang akan di rehabilitasi. Lahan kritis yang telah ditanami oleh kelompok tani seluas 45 Ha dari 60 Ha yang akan direhabilitasi. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Peran Penting Lahan Gambut

Secara fisik, lahan gambut merupakan tanah histosol yang umumnya selalu jenuh air atau terendam air sepanjang tahun. Menurut Foth (1991) tanah histosol terbentuk dari tanah jenuh air terus menerus paling sedikit sebulan dalam satu tahun. Tanah  histosol sangat dipengaruhi oleh vegetasi alami yang ditimbun di dalam air dan tingkat perombakannya. Suriadikarta & Mas (2007) menjelaskan bahea, dalam praktek, tanah gambut yang digunakan memiliki kedalaman minimal 50 cm. Pada tahap awal, proses pengendapan bahan organik terjadi di daerah cekungan di belakang tanggul sungai. Dengan adanya air tawar dan air payau yang menggenangi daerah cekungan, proses dekomposisi bahan organik menjadi sangat lambat. Selanjutnya secara perlahan-lahan terjadilah akumulasi bahan organik, yang akhirnya terbentuk endapan gambut dengan ketebalan yang bervariasi.

Lahan gambut adalah lahan yang terbentuk dari bahan organik  berupa (1) bahan jenuh air dalam waktu lama dengan kadar bahan organik paling sedikit 12%, atau (2) bahan tidak jenuh air selama kurang dari beberapa hari dengan kadar bahan organik paling sedikit 20% (Noor  2004).

Lahan gambut (kadang-kadang disebut rawa gambut) terbentuk dari tanaman-tanaman yang tergenang air terurai secara lambat. Gambut yang terbentuk terdiri atas berbagai bahan organik tanaman yang membusuk dan terdekomposisi pada berbagai tingkatan. Tingkat dekomposisi/kematangan gambut serta kedalaman gambut sangat mempengaruhi kualitas lahan gambut. Berdasarkan tingkat dekomposisinya gambut tergolong dalam gambut fibrik (dekompoisi awal), hemik (dekomposisi pertengahan), saprik (dekomposisi lanjut) (Noor 1996). Ciri-ciri khas dari  lahan gambut adalah mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (lebih dari 65%). Gambut yang terbentuk dapat mencapai kedalaman lebih dari 15 m (Moore & Nina  2003).

Umumnya, kawasan gambut membentuk kubah yang tebal di bagian tengah yaitu diantara dua sungai dan makin mendekati tepi atau pinggir sungai ketebalan gambut makin tipis. Ketebalan gambut dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, dibeberapa wilayah rawa yang berada pada ketinggian 1 m – 2 m dari permukaan laut, ketebalan gambut relatif tipis, tetapi di wilayah pesisir ketebalan gambut sekitar 0,5 m – 2,0 m (Noor  2001).

Hutan rawa gambut ditumbuhi oleh beberapa jenis vegetasi. Dari arah sungai menuju ke tengah kubah gambut terdapat perubahan yang berlanjut dalam komposisi spesies dan struktur hutan. Sungai-sungai tersebut didominasi oleh rerumputan apung dan tumbuhan palem yang berduri dan melilit, yang dapat menghalangi sungai tersebut, membuat sulit bahkan tidak bisa untuk diarungi. Tumbuhan palem dan beraneka ragam pohon besar seperti Terentang, Pulai dan Meranti mendominasi di sekitar sungai. Keragaman tersebut mulai berkurang dengan jelas terlihat menuju area deposit gambut yang lebih dalam di sekitar pusat dari kubah gambut tersebut. Salah satu spesies khas di rawa gambut adalah Ramin, yang merupakan jenis pohon yang bernilai komersial tinggi.   Hanya   ada sedikit   spesies   yang   tahan   terhadap   kondisi   pasokan   unsur   hara   yang amat   sedikit   dan   juga   simpanan  air  yang  hampir   selalu   konstan  di bagian  hutan ini, membuat pertumbuhan  pohon-pohon  menjadi   terhambat. Di beberapa wilayah,  pepohonan  tumbuh  tidak lebih dari ketinggian 10 hingga 15 meter (Central Kalimantan Peatlands Project  2006).

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Hutan dan Penghuninya

Hutan dan Penghuninya

Hutan dan Penghuninya

Tahukah kamu apa itu hutan dan jenisnya? Hutan merupakan tempat hidup berbagai hewan dan tumbuhan. Hutan banyak memberi manfaat bagi manusia seperti penghasil seperti menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida, mencegah terjadinya erosi, mengatur tata air, mengandung banyak hasil hutan yang bermanfaat dan dapat menjadi tempat rekreasi dan sumber ilmu pengetahuan bagi manusia.

Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki berbagai jenis hutan. Hal ini disebabkan karena Indonesia termasuk daerah Wallacea yaitu daerah yang terletak diantara garis Wallacea dan Weber. Garis Wallacea terletak diantara Kalimantan dan Sulawesi dan terus ke selatan Bali dan Lombok. Sedangkan garis Weber terletak disebelah timur Sulawesi dan Nusa Tenggara. Selain itu Indonesia juga dilewati oleh garis Khatulistiwa, sehingga Indonesia hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kering. Hal ini juga sangat mempengaruhi jenis hutan di Indonesia karena jenis hutan sangat tergantung dengan kondisi alamnya dan faktor-faktor lain seperti jenis tanah, suhu, curah hujan dan iklim.

Sumber : HIJAU (Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center)

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Hutan ku

Kondisi hutan mangrove akibat abrasi air laut

Kondisi hutan mangrove akibat abrasi air laut

Kerusakan hutan di Indonesia akibat illegal logging, dan praktek-praktek pemanfaatan hasil hutan berupa kayu yang tidak dibenarkan telah berada pada kondisi yang mencemaskan. Kerusakan hutan dan lahan telah menyebabkan terganggunya keseimbangan alam lingkungan dan terputusnya rantai ekosistem yang menyebabkan terjadinya berbagai bencana alam. Kerusakan hutan dan lahan jelas telah menurunkan fungsi-fungsi penting, seperti fungsi hidrologis, pengaturan iklim mikro, serta habitat satwa liar, dan spesies-spesies tanaman.

Berdasarkan data Dephut dan didasarkan pada pemantauan satelit Citra Lansat, baik oleh Indonesia maupun Belanda, tingkat kerusakan hutan yang terjadi setiap tahunnya rata-rata 1,188 juta hektar/tahun. Terkait dengan tingkat kerusakan hutan di Indonesia, Dephut mempunyai tiga data yang terbagi dalam tiga periode, yakni periode 1985 – 1997 dengan tingkat kerusakan 1,87 juta hektar/tahun, 1997 – 2000 tingkat kerusakannya 2,83 juta hektar/tahun, dan tahun 2000 – 2005 tingkat kerusakan hutannya 1,188 juta hektar/tahun.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Balai Besar Taman Nasional sebagai pemangku kawasan konservasi tentu memikul tanggung jawab utama berkenaan dengan hal ini. Balai Besar Sumber Daya Alam dan Balai Besar Taman Nasional bertanggung jawab mengelola kawasan konservasi dengan pola yang dapat secara maksimal meramu potensi sosial dan fisik sumber daya alam agar dapat memberi manfaat ekologis bagi lingkungan dan manfaat ekonomis bagi masyarakat.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.