Saud Daniel's Blog

Just another way to share

ISU LAHAN GAMBUT DAN PERUBAHAN IKLIM

Hutan rawa gambut

Kepentingan lahan gambut di Indonesia dapat dikaitkan dengan perannya sebagai penangkap dan penyimpan karbon. Dengan penghitungan konservatif luas lahan gambut Indonesia seluas 16 juta hektar, dan diasumsikan rata-rata kedalamannya 5 meter, maka Murdiyarso et al (2003) memperkirakan bahwa cadangan karbon yang disimpan di gambut adalah sekitar 16 Giga Ton. Dalam kondisi alami, tanpa adanya gangguan yang signifikan, CO2 akan disimpan sebagai cadangan karbon organik dalam biomassa yang tersimpan di lahan gambut, sehingga akan sangat bermanfaat dalam menahan emisi gas rumah kaca ke atmosfir. Namun kebalikannya, dalam kondisi dimana pembukaan lahan gambut dan drainase berlebihan maka justru lahan gambut Indonesia kemudian akan memberikan sumbangan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Berbagai penelitian telah menunjukan hal tersebut sebagai kenyataan yang telah terjadi.

Komunikasi Nasional Pertama Indonesia yang ditujukan kepada UNFCCC, diterbitkan pada tahun 1999, menunjukan bahwa CO adalah merupakan emisi gas rumah kaca yang utama di Indonesia, sekitar 83% dari emisi setara CO2. Pada tahun 1994, sektor LULUCF bertanggung jawab terhadap 63% sumber emisi CO2(Pelangi 2001),suatu peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi serupa pada tahun1990, sebesar 48% (Pelangi 2000). Salah satu penyebab utama dari pelepasan karbon pada sektor tersebut adalah adanya pembukaan hutan (termasuk hutan gambut) untuk berbagai keperluan, utamanya pertanian dan perkebunan.

Lahan dan hutan gambut yang telah dibuka dan didrainase kemudian akan mengalami subsiden serta kekeringan, yang akan sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan, karena melepaskan karbon ke atmosfir sehingga menimbulkan apa yang disebut efek gas rumah kaca, yang memicu perubahan iklim global. Suatu studi menunjukan bahwa kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/1998 telah menghanguskan lebih dari 1,45 juta hektar lahan gambut di seluruh Indonesia. Kebakaran tersebut tidak saja telah melepaskan sekitar 0,81 – 2,57 GtC (Page et.al. 2002), tapi juga diidentifiksi sebagai sumber utama penyebaran asap di lingkup regional Asia Tenggara, sehingga mengakibatkan kerugian lebih dari AS $ 9 milyar dan mempengaruhi kehidupan lebih dari 75 juta orang (Bappenas 1999).

Laporan menyampaikan bahwa enam dari tujuh wilayah yang rawan terbakar di Sumatra berada di lahan gambut (Anderson and Bowen 2000). Meskipun Indonesia telah mengambil langkah untuk mencegah dan menangani kebakaran, namun hal tersebut masih belum mencukupi, terbukti dengan masih terjadinya kebakaran di berbagai lokasi, yang sebenarnya sudah menjadi langganan terbakar setiap tahunnya. Di tingkat global, meskipun telah tersedia berbagai data hasil penelitian, peranan lahan gambut sebagai salah satu sumber emisi gas rumah kaca belum juga memperoleh perhatian secara institusional. Meskipun negara-negara ASEAN telah mengambil langkah institusional, tetapi UNFCCC, misalnya, masih belum memasukan hal tersebut sebagai salah satu isu perubahan iklim yang penting. Kondisi tersebut sebetulnya sangat memprihatinkan karena Indonesia sangat memerlukan komitmen dan kewajiban negara lain untuk turut mengatasi permasalahn kebakaran yang telah menyangkut hajat hidup manusia secara global.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: