Saud Daniel's Blog

Just another way to share

FLORA KALIMANTAN

Vegetasi alami suatu kawasan dipengaruhi oleh perpaduan beberapa faktor seperti topografi, ketinggian dari permukaan laut, geologi, tanah, iklim dan pasokan air, terutama curah hujan. Kalimantan terletak di katulistiwa yang wilayahnya panas sepanjang tahun dan merupakan daerah terlembab di kepulauan Indonesia. Kondisi tersebut serta latar belakang geologi dan iklim pulau-pulau mendorong timbulnya penggolongan dan keragaman jenis yang tinggi. Akibatnya Kalimantan menduukung permukaan hutan basah tropis terluas di Asia Tenggara; salah satu habitat yang terkaya akan jenis di bumi.

Tipe hutan di Kalimantan mencakup hutan bakau, hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar, hutan kerangas terluas di Asia Tenggara, hutan Dipterocarpaceae dataran rendah, hutan kayu besi (ulin), hutan pada batu kapur dan tanah ultrabasa, hutan bukit Dipterocarpaceae dan beberapa formasi hutan pegunungan. Habitatnya meliputi vegetasi pantai, hamparan lamun dan terumbu karang.

Kalimantan memiliki flora yang terkaya di Kepulauan Sunda, baik jumlah kekayaan maupun keragaman jenisnya; keragaman pohon sepetak hutan kecil sama tingginya dengan keragaman di seluruh Pulau Irian atau di Amerika Selatan. Pulau ini merupakan pusat keragaman tumbuhan; sebanyak 10.000 sampai 15.000 jenis tumbuhan berbunga; floranya sekaya flora di seluruh Afrika yang luasnya 40 kali lebih besar. Keragaman jenis itu mencakup unsur Asia dan Australia. Kalimantan memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae, yang merupakan kelompok kayu perdagangan terpenting di  Asia Tenggara; 58 % jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Kalimantan memiliki lebih dari 2.000  jenis anggrek dan 1.000 jenis pakis, dan merupakan pusat distribusi karnivora kantung semar Nepenthes. Tingkat endemisme flora cukup tinggi yaitu sekitar 34 % dari seluruh jenis tumbuhan, tetapi hanya 59 marga di pulau ini unik (dari 1.500 marga seluruhnya). Sedangkan endemisme tingkat jenis di Sumatera hanya 12 % dan 17 tingkat marga. Hanya satu suku endemik di borneo yaitu Scyphostegiaceae.

Kekayaan jenis tumbuhan dapat dihubungkan dengan tipe tanah. Keragaman tipe habitat dan endemisme lokal berkaitan dengan tanah, misalnya sifat geologi batuan muda, khususnya di barat daya Kalimantan, berperanan dalam menentukan kekayaan jenis tersebut. Keragman habitat hutan di Kalimantan berkisar dari hutan Dipterocarpaceae dewasa dengan tajuk tinggi, strarifikasi yang jelas dan tumbuhan polong-polongan yang tinggi dan hutan Diptericarpaceae yang menjulang tinggi, sampai pada hutan kerangas yang miskin jenis pada lapisan yang lebih rendah, tumbuh di atas tanah berpasir puti. Kondisi lokal mennetukan tingkat pertumbuhan flora seperti hutan kayu besi di daratan aluvial, sementara pesisir Kalimantan dikelilingi hutan bakau, beberapa bagian di antaranya adalah hutan bakau terluas di Indonesia. Perbedaan dalam tipe vegetasi dan struktur hutan mendukung berbagai relung tumbuhan dan binatang. Sebagian dari 146 jenis rotan Kalimantan berkaitan dengan tipe hutan khusus.

Selain hutan Dipterocarpaceae yang bernilai komersial dan pohon berkayu, hutan kalimantan kaya dengan pohon buah-buahan yang sangat penting bagi kehidupan di hutan dan bagi penduduk setempat. Jenis-jenis buah ini antara lain adalah mangga Mangifera, durian (Durio), Baccaurea (Euphorbiaceae), sukun dan nangka Artocarpus serta rambutan Nephelium. Beberapa jenis ini biasa dipelihara di halaman rumah-rumah penduduk. Di antara palem kalimantan, hanya sedikit marga yang menghasilkan buah-buahan, makanan dan produk lain yang secara luas digunakan oleh masyarakat setempat. Palem seperti aren (Arenga pinnata), nipah (Nypa fructicans), dan lontar (Borrassodendron borneensis) terdapat di sini. Tumbuhan sagu asli Eugeissona utilis juga dipanen hasilnya untuk makanan seperti Metroxylon sagu. Rotan (Calamus spp.). mempunyai nilai komersial dan empat atau lima jenis ditanam secara tradisional di halaman rumah penduduk di Kalimantan Timur. Rotan, bambu, pakis dan tanaman lainnya secara luas digunakan dalam perekonomian lokal.

Banyak hasil hutan dipanen oleh masyarakat Dayak dan digunakan untuk makanan, kerajinan tangan, bahan bangunan, obat-obatan, racun ikan, bahan pembungkus dan keperluan ritual. Pengobatan terhadap sejumlah gangguan kesehatan dan penyakit masih menggunakan ramuan yang diambil dari ekstraksi tanaman. Banyak tumbuhan yang dipercaya sangat mujarab dan beberapa tanaman (misalnya  Pityogramma, Blechum, Nephrolepis, Urena, dan Celrodendrum) layak diteliti untuk kimia tumbuhan dan farmakologi. Hasil tumbuhan lain yang diketahui mempunyai efek fisikologi adalah akar tuba Derris elliptice (insektisida dan racun ikan), Goniothalamus (penangkis serangga yang memiliki antikuman), dan racun ikan seperti sejenis purut Diospyros serta racun yang ada di dalam Parartocarpus latex.

Dengan semakin terbukanya gaya hidup modern dan tersedianya alternatif lain, masyarakat lebih jarang menggunakan hasil tanaman. Oleh karena itu dokumentasi pengetahuan etnobotani ini penting dilakukan sebelum jenis-jenis tersebut punah, khususnya jenis-jenis flora endemik yang terdapat di Pulau Kalimantan.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: