Saud Daniel's Blog

Just another way to share

TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Dinyatakan :

Keputusan Menteri Pertanian Tahun 1980

Dasar Penunjukan :

Keputusan Menteri Kehutanan

Nomor: 284/Kpts-II/1992 – 26 Pebruari 1992

Ditetapkan :

Keputusan Menteri Kehutanan  No: 758/Kpts-II/1999

Luas  : ±  120.551 hektar

Letak  : Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Sumur dan Cimanggu,

Koordinat :

102° 02′  – 105° 37′  BT dan

06° 30′ –    06° 52′  LS.

Kondisi Umum

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat terakhir bagi kelangsungan hidup satwa langka Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem pesisir pantai, dan ekosistem daratan.

Taman Nasional Ujung Kulon dan Cagar Alam Krakatau pada tahun 1992 telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia (The Natural World Heritage Site) oleh UNESCO.

Potensi Wisata

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik. Keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alamnya seperti sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha),  kesemuanya itu merupakan pesona alam yang sangat menawan.

Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional sebagian besar adalah  suku Sunda Banten yang terkenal dengan kesenian saktinya, yaitu Debus. Masyarakat tersebut pemeluk agama Islam yang kuat, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.

Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat, tidak saja masyarakat di sekitar Ujung Kulon tetapi juga masyarakat yang jauh dari Ujung Kulon,  dan tempat keramat yang paling terkenal adalah gua Sanghiang Sirah yang terletak di ujung paling barat Ujung Kulon.

Di Kawasan Taman Nasional  Ujung Kulon, tepatnya di puncak Gunung Raksa Pulau Panaitan, terdapat peninggalan budaya/sejarah berupa Arca Ganesha.  Patung manusia berkepala gajah itu, sampai saat ini masih banyak dikunjungi wisatawan, terutama mahasiswa. Keberadaan Arca Ganesha ternyata dapat memberikan daya tarik utama bagi mereka yang berkunjung ke Pulau Panaitan. Ganesha Panaitan memang banyak menyimpan misteri karena bentuknya sangat berbeda dibanding dengan patung-patung Ganesha lainnya di Indonesia.  Kombonasi keanekaragaman hayati, keindahan panorama  alam, dan kekayaan budaya, merupakan modal potensial  bagi pengembangan wisata, baik wisata alam maupun budaya.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi antara lain :

  1. Tamanjaya ; Sebuah desa kecil yang merupakan pintu masuk utama Taman Nasional Ujung Kulon. Terdapat pasilitas pengunjung berupa dermaga dan wisma tamu.
  2. Cibiuk; (2 km dari Tamanjaya) terdapat sumber air panas yang biasa digunakan masyarakat untuk mandi berobat karena penyakit kulit.
  3. Dungus Balang ; terdapat lokasi berkemah (camping ground) dan disekitarnya mempunyai panorama alam yang menakjubkan.
  4. Pantai Kalejetan ; dapat dilakukan  surfing dan pengamatan tumbuhan/satwa (melihat banteng di hutan). Terletak ± 11 km atau 3 jam berjalan kaki dari Tamanjaya.
  5. Pantai Karang Ranjang ; terdapat pantai gelombang besar tetapi pantainya  berpasir, tempat peneluran penyu, pengamatan satwa seperti biawak, kijang, babi hutan, dan lain-lain. Terletak ± 5 km dari Pantai Kalejetan.
  6. Cibandawoh ; terdapat pantai yang landai dan bersih, pengamatan satwa seperti kancil, babi hutan, owa dan lain-lain. Terletak ± 6 km dari Karang Ranjang.
  7. Pulau Peucang ; Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih sangat ideal untuk berenang dengan snorkel, dan menyelam. Terdapat  hutan hujan dataran rendah yang asli dengan lantai hutan yang datar.
  8. Karang Ranjang-Cibandawoh-Cikeusik-Cibunar-Cidaun-Ciboom-Ciramea-Tanjung Layar; Menjelajahi hutan, air terjun, menyelusuri sungai, padang penggembalaan satwa, dan tempat peneluran penyu, jungle tracking dan berkemah.
  9. Pulau Handeuleum, Cigenter, dan Cihandeuleum ; Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak jawa dan berbagai macam jenis burung), dan menyelusuri sungai di hutan pantai dan hutan mangrove.

10.  Pulau Panaitan; menyelam, berselancar dan jungle tracking.

11.  Gunung Payung, Gunung Honje, dan Gunung Raksa ; Pendakian dan jungle tracking.

Cara mencapai lokasi

Untuk mencapai Taman Nasional Ujung Kulon ada beberapa jalur yang dapat dipilih, baik jalur darat maupun jalur laut, yaitu;

  1. Jalan darat : Jakarta-Anyer-Labuhan-Sumur-Tamanjaya (Taman Nasional Ujung Kulon) dapat ditempuh selama  ±  5 jam. Atau Jakarta-Bogor-Rangkas Bitung-Pandeglang-Labuhan-Sumur-Tamanjaya (Taman Nasional Ujung Kulon) dapat ditempuh selama ± 7 jam
  2. Jalan laut : Labuhan-Pulau Peucang (Taman Nasional Ujung Kulon) selama ± 5 jam dengan kapal motor nelayan atau 3 jam dengan Speed Boat.

Filed under: Kehutanan dan Lingkungan, ,

One Response

  1. Ekowisata Ujungkulon mengatakan:

    Halo gan, maaf mohon diralat ya info cara mencapai Ujungkulon melalui jalan darat yang sebenarnya kurang tepat.
    Rute terbaik dan terdekat adalah:
    1. Jakarta (Kalideres) – Labuan – Tamanjaya (transit di terminal Labuan)
    2. Jakarta – Serang – Tamanjaya (transit di terminal Pakupatan, Serang)
    Untuk info lebih detail tentang obyek wisata Ujungkulon dan paket wisata Ujungkulon silahkan kunjungi blog Ekowisata Ujungkulon.
    Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: